Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel
Header

DISKUSI REGIONAL

Rate this item
(0 votes)
Written by  John Subani | Published in: BARITA NOVEMBER 2011

ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

Masyarakat yang hidup di pulau-pulau kecil menjadi kelompok yang paling terpengaruh oleh dampak dari perubahan pada lingkungan akibat perubahan pola-pola cuaca dan iklim, karena mereka sangat bergantung pada hasil alam. Ancaman kenaikan permukaan air laut atau ketidakpastian musim tanam akibat cuaca yang tidak menentu berpengaruh langsung ke penghidupan keluarga. Namun demikian, masyarakat ini juga adalah kelompok yang memiliki kearifan lokal dan motivasi yang paling kuat untuk melakukan adaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Wilayah yang paling rentan dan sekaligus paling parah mengalami dampak perubahan iklim adalah daerah-daerah kepulauan. Meningkatnya tinggi muka laut dan suhu air laut akan meningkatkan erosi, mengurangi daya tahan alami bakau dan terumbu karang, dan pada gilirannya menghantam industri pariwisata.

 

 

Tanpa peningkatan kemampuan beradaptasi, dampaknya di wilayah kepulauan akan semakin besar karena kurangnya ketersediaan air bersih, kerentanan pangan, akses sumber daya dan distribusi barang dan jasa. Diskusi Regional Forum KTI dengan tema Adaptasi terhadap Perubahan Iklim untuk Pulau-pulau Kecil di Kawasan Timur Indonesia merupakan ruang untuk para pelaku pembangunan di KTI, terutama mereka yang berasal dari provinsi kepulauan, kabupaten kepulauan, para penggiat adaptasi, dan lembaga-lembaga tingkat nasional, untuk saling belajar, berbagi pengalaman dan saling memperkaya dengan inisiatif-inisiatif cerdas yang sudah terbukti berhasil di daerah masing-masing.

Pertemuan selama dua hari ini menghasilkan tawaran - tawaran solusi untuk tantangan pembangunan yang terkait dengan adaptasi, yaitu:

1. Perencanaan pembangunan yang lebih komprehensif, terpadu dan berkelanjutan, dengan tidak melupakan kearifan lokal. Kebijakan yang diimplementasikan hendaknya berpihak kepada masyarakat pesisir serta memastikan adanya sinergi antara program dan anggaran pemerintah, lembaga mitra internasional serta masyarakat.

2. Mendorong pulau-pulau yang berdekatan untuk bekerja sama dan saling menguatkan, dengan mengandalkan produk dan kelebihan komparatif yang dimiliki oleh masing-masing pulau. Kerjasama ini merupakan permulaan dari gerakan kemandirian pulau yang diharapkan mendorong pulau-pulau lain untuk melakukan hal serupa.

3. Kerawanan pangan hendaknya dilihat tidak hanya dengan menekankan pada beras sebagai satu-satunya komoditi pangan, tapi mendorong konsumsi komoditi-komoditi pangan lain yang sesuai dengan budaya, sejarah dan kondisi alam setempat.

4. Yayasan BaKTI berkomitmen mendorong promosi dan replikasi 12 inisiatif cerdas yang diangkat lewat Diskusi Regional ini, yang merupakan tawaran solusi untuk tantangan di bidang penyediaan air bersih, penyediaan listrik, ketahanan pangan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta pendidikan lingkungan hidup, ke berbagai wilayah Kawasan Timur Indonesia dan tingkat nasional.

5. Mendukung rencana strategi nasional untuk pembangunan di kawasan daerah tertinggal, pesisir, dan pulau-pulau kecil di Kawasan Timur Indonesia yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal RI, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dan Dewan Nasional Perubahan Iklim, melalui upaya-upaya adaptasi yang diangkat dalam Diskusi Regional ini

Diskusi Regional1Terlepas dari kondisi dan keadaan yang sudah terjadi, sudah banyak inisiatif-inisiatif adaptasi terhadap perubahan iklim dilakukan oleh masyarakat dengan pendekatan kearifan lokal dan motivasi yang kuat untuk hidup.Dilain pihak, pemerintah daerah dan pusat juga berusaha membuat program-program yang mendukung proses adaptasi ini. Baik inisiatif-inisiatif lokal dan program-program dari pemerintah ini bisa dijadikan contoh dan harapannya  kedua elemen ini bisa berkolaborasi dan bekerjasama untuk menangani masalah ini. Berikut inisiatif-inisiatif lokal dan program pemerintah tersebut;

Menjangkau Orang-Orang Terluar: Program Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk Wilayah Pesisir dan Pulau - Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan RI bersama USAID – IMACS (Indonesia Marine and Climate Support)

Perubahan iklim tidak hanya mendatangkan kebingungan, tapi juga bencana, kerentanan pangan, wabah penyakit, dan kerugian yang besar terutama bagi masyarakat yang tidak mampu beradaptasi. Kementerian Kelautan dan Perikanan dan USAID melalui program ini mempersiapkan masyarakat untuk mampu beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim Indonesia Marine and Climate Support (IMACS) di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tenggara.

Aksi di Pesisir untuk Keberlanjutan Hidup Mangrove Action Project Desa Rewatayya di Pulau Tanakeke, Sulsel telah kehilangan 1.200 hektar hutan mangrove sejak tahun 1995. Kini mereka mengalami penurunan produksi perikanan, ancaman badai dan gelombang besar. Namun masyarakat tidak tinggal diam. Ibu Murni, seorang guru SD, membentuk kelompok perempuan dan mengajak murid-muridnya menanam mangrove dan mengembalikan perisai hidup desa mereka.

Bawa Ikan Lebih Dekat: Inisiatif Masyarakat untuk Perikanan Berkelanjutan Locally-Managed Marine Area (LMMA) – Program Pengembangan Masyarakat (PPM) Meos Mangguandi

Selain mempertimbangkan musim, angin, dan gelombang, menangkap ikan juga perlu aturan, misalnya ikan apa yang akan ditangkap, kapan, di mana, dan bagaimana cara menangkapnya. Masyarakat Meos Mangguandi, sebuah kampung di Distrik Kepulauan Padaido, Kabupaten Biak Numfor, Papua adalah satu dari sekian banyak kelompok masyarakat pesisir yang hingga sekarang memegang teguh aturan-aturan tersebut, yang dalam bahasa setempat dikenal dengan nama Sasi. Tetap memberlakukan waktu menangkap ikan, jenis yang dapat ditangkap dan cara menangkapnya ternyata menjaga ketersediaan ikan di desa mereka, melindungi terumbu karang, dan membantu mereka tetap bertahan menghadapi perubahan iklim.

Adat yang Menjaga Sumber Daya Kami Locally-Managed Marine Area (LMMA) – Program Pengembangan Masyarakat (PPM) Tanimbar Kei, Maluku Masyarakat di kepulauan Kei dikenal sebagai masyarakat yang memegang teguh tradisi dalam pengelolaan sumber daya alam mereka. Tradisi mengajarkan mereka untuk menghormati dan melestarikan sumber daya alam, baik yang berada di darat maupun di laut. Beberapa aturan dalam tradisi ini telah diadopsi dan diperkuat menjadi Peraturan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pariwisata untuk wilayah Tanimbar Kei. Tidak hanya populasi biota laut meningkat, perekonomian masyarakat pulau pun membaik.

Sorgum Bergizi, Sorgum Berduit Maria Loretha, Adonara Barat, Nusa Tenggara Timur Berawal dari sepiring sorgum kukus, Maria Loretha, di Adonara Barat, Flores, tertarik untuk mengembangkan tanaman Sorgum dan tanaman lokal yang hampir tak pernah lagi dilirik petani di sana. Ternyata tanaman ini lebih tahan terhadap kekeringan berkepanjangan dan mendatangkan lebih banyak uang dibanding tanaman lain. Sorgum Bergizi, Sorgum Berduit menjadi mantra Maria Loretha untuk kebun sorgum yang juga diselingi tanaman jelai, jintan, dan jagung.

Kenali Tantangan, Temukan Solusi: Peningkatan Kapasitas Adaptif Komunitas Masyarakat Mbeliling, Flores, Nusa Tenggara Timur dan Burung Indonesia Perubahan iklim adalah istilah yang relatif baru bagi sebagian besar masyarakat di sekitar Hutan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. Segelintir masyarakat di sana pernah mendengar istilah ini sedikit-sedikit dari surat kabar, siaran radio, pertemuan - pertemuan di Kecamatan. Informasi yang diberikan dengan pendekatan lokal menjadikannya lebih realistis dan mudah dipahami.

Kalabia: Melayarkan Sumber Pengetahuan dari Pulau ke Pulau Masyarakat Kepulauan Raja Ampat, Papua dan Conservation International Seekor ikan pari bernyanyi di dasar perairan yang sarat terumbu karang. Di punggungnya, anak-anak ikan badut, kuda laut, ikan buntal, cumi-cumi, dan beberapa anak ikan lainnya dengan semangat mendengarkan ikan pari bernyanyi menjelaskan berbagai jenis anemon yang mereka jumpai sepanjang perjalanan. Tidak jauh berbeda dengan ikan pari di salah satu adegan dalam film Finding Nemo, Kalabia di juga mengajak anak-anak dari 88 kampung di pulau-pulau Raja Ampat mengenal alam bawah laut di sekitar mereka.

Belajar dari Alam untuk Masa Depan Sekolah Lapangan Iklim Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Nusa Tenggara Barat Di Sekolah Iklim para petani belajar melihat tanda-tanda iklim dengan alat sederhana yang dibuat. Setelah memperkirakan kecenderungan iklim yang akan terjadi dibeberapa bulan kemudian, para petani kemudian dibekali pengetahuan untuk menentukan jenis tanaman apa yang cocok untuk ditanam. Tidak hanya petani, kita semua perlu meningkatkan pengetahuan agar mampu menghadapi Perubahan Iklim.

Diskusi Regional2Anak-Anak dan Perubahan Iklim UNICEF Anak-anak membayangkan masa depan mereka di dunia yang terkena dampak perubahan iklim. UNICEF mendukung studi yang menilai dampak-dampak perubahan iklim pada nutrisi dan migrasi yang mempengaruhi anak-anak. Hasil penelitian memberi gambaran mengenai pandangan anak - anak, kebutuhan informasi dan pengalaman-pengalaman langsung menghadapi perubahan iklim.

Harapan Baru pada Listrik SEHEN: Cahaya untuk Cahaya PT. Perusahaan Listrik Negara Jika hemat energi kita identikkan dengan hemat biaya, siapa yang tidak mau Super Ekstra Hemat Energi? Ini adalah sebuah solusi multiple win alias menang banyak dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Super Ekstra Hemat Energi (SEHEN) adalah paket lampu LED berpanel surya berdaya 3 watt sebagai solusi bagi daerah terpencil – sebagian besar adalah daerah kepulauan - yang kebutuhan energi listriknya masih belum terjangkau oleh PLN Teknologi Energi Surya dan Pengelolaan Air Bersih untuk Pulau Kopernik.

Banyak perempuan di Asia dan Afrika harus menempuh perjalanan jauh dan melelahkan mencari air untuk kebutuhan sehari-hari. Di negara-negara berkembang, setidaknya 4.000 anak meninggal setiap hari karena tidak adanya akses terhadap air minum yang bersih. Sebenarnya banyak sekali teknologi sederhana yang dapat mengubah kehidupan masyarakat miskin di berbagai belahan bumi. Kopernik mempertemukan teknologi-teknologi tersebut dengan mereka yang membutuhkan.

Air Segar di Tengah Lautan Garam Yayasan Palu Hijau Hingga akhir tahun 2007, semua penduduk di Togean menggunakan air hujan untuk minum dan MCK. Saat musim kemarau datang, penduduk bahkan mesti mengambil air tawar dari sumber air terdekat (naik perahu, pulang pergi membutuhkan waktu empat jam). Dengan kondisi ini, masyarakat dusun di kepulauan Togean mendambakan air bersih, setidaknya untuk makan dan minum. Setelah menemukan cara desalinasi air laut, kini air tawar bisa tersedia di pekarangan rumah.

Read 6453 times
Last modified on Wednesday, 18 September 2013 16:10

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.