Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel
Header

Membangun Fanatisme Bersama Akan Karya Dan Produk Masyarakat NTT

Rate this item
(0 votes)
Published in: Artikel

BAPPELITBANGDA NTT Gagasan Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat dalam pertemuan dengan Walikota serta Bupati se NTT tanggal 14 Mei 2019 di Jakarta untuk pembentukan wadah ekonomi bersama, yaitu Masyarakat Ekonomi Nusa Tenggara Timur (ME-NTT) sudah terwujud. Pelaksanaan kegiatan ME-NTT tersebut berlangsung melalui rapat kerja Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) berlangsung di Hotel Ayana - Labuan Bajo, Senin 10 Juni 2019.

 

Rapat Kerja dengan Tema Membangun Kolaborasi Dalam Mewujudkan Masyarakat Ekonomi NTT ini, hadir bersama Wakil Gubernur NTT, Josef. Naesoi, Bupati/Walikota, Para Pimpinan Perangkat Daerah(PD) Provinsi dan Kabupaten /Kota se-NTT terkait, Staf Khusus dan Staf Ahli Gubernur, para Asisten Setda Provinsi NTT, Pimpinan Bank NTT, serta para pelaku ekonomi di NTT.

 

 

Pembangunan ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT) harus menjadi komitmen semua pihak agar label Provinsi termiskin tidak ada lagi. Karena itu para Bupati/Walikota diharapkan bisa bekerja  dan bersinergi antara Pemprov, Pemkab, Bank NTT dan Pelaku ekonomi/koperasi di masing-masing wilayah. “Kita harus bangkit dan keluar dari label sebagai Provinsi termiskin. Salah satunya jadikan NTT sebagai pasar utama dari semua komoditas yang dihasilkan oleh rakyat NTT sendiri,” kata Gubernur NTT, saat membuka Rapat Kerja dengan para Bupati/Walikota se-NTT.

 

 

Selanjutnya dikemukakan juga dorongan kepada masyarakat NTT untuk “Membangun fanatisme bersama akan karya dan produk masyarakat NTT “. Saat ini 55 persen penduduk NTT adalah pengguna jasa internet aktif, artinya kita memiliki potensi influenser(alat pemasaran), yang sangat besar dari 2.954.325 juta jiwa pengguna internet. Apabila fanatisme bersama itu terbangun, maka kita memiliki kekuatan yang sangat besar dalam mempromosikan potensi pariwisata kita, produk local kita, dan bisa menjadi trending topic dunia dengan cara berhastaq,berbagi atau subscriber, dalam membangun pasar digital.

 

 

Dengan mengembangkan produk ekonomi lokal, seperti Kopi, Fanili, Cengkeh, Mete, Rumput Laut, Ikan, Garam, Padi, Jagung, Kemiri, dan produk ternak lokal, Sapi, Kerbau, Babi, lain sebagainya yang belum dikelola secara optimal, maka produk potensial ekonomi yang hampir meliputi semua wilayah kabupaten di NTT tersebut perlu dikembangkan untuk dirumuskan melalui langkah-langkah konkrit oleh para Bupati/Walikota dalam mengatasi masalah ini.

 

 

Dalam rapat kerja tersebut Gubernur NTT, menekankan komitmen semua pihak untuk memacu dengan mengembangkan produk-produk ekonomi lokal dan memasarkannya di antara wilayah Kabupaten/Kota. NTT memiliki produk ekonomi lokal yang sangat potensial. Kembangkan produk yang ada dan pasarkan antara Kabupaten, kita harus saling mendukung, kebiasaan mendatangkan produk-produk dari luar harus ditinggalkan. Secara bertahap harus mulai mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk dari luar NTT.

 

 

Penegasan lainnya yang di sampaikan Gubernur NTT anataranya, perlindungan terhadap semua komoditas ekonomi yang kita miliki di daerah ini, contohnya Kopi. Kopi yang kita miliki sangat luar biasa enak dan menjadi kopi terbaik dunia. Tetapi hotel-hotel dan  restaurant-restorant di NTT masih menggunakan kopi dari luar. Ke depan kita harus wajibkan pakai kopi NTT.

 

 

Selain itu, Gubernur menegaskan juga akan dikeluarkan edaran untuk membatasi kopi–kopi dari luar NTT. “Selama saya menjadi Gubernur NTT, saya tidak boleh melihat itu lagi. Saya minta para Bupati/Walikota yang hadir untuk melakukan kontrol di Hotel-hotel dan juga restaurant. Jangan ragu-ragu bertindak. Kita harus bekerja luar biasa dan dengan cara-cara luar biasa juga,” terkait hal ini(kopi NTT) berulang-ulang disampaikannya dalam beberapa pertemuan lain juga, baik dengan para ASN, pengusaha hotel serta masyarakat lainnya. Para Bupati / Walikota mari kita bersama rumuskan dan sepakati untuk kemudian dideklarasikan menjadi Masyarakat Ekonomi NTT. Kita harus menjadi produsen sekaligus konsumen. Kita harus utamakan dulu kebutuhan didalam wilayah kita NTT. Kalau surplus baru ekspor keluar  “tandasnya.

 

 

Penyampain lain dari Gubernur NTT, kepada para Bupati/Walikota, supaya turun langsung ke desa-desa untuk melihat pergerakan ekonomi di desa, untuk memastikan pergerakan roda perekonomian berjalan. “Bupati/Walikota harus melihat ekonomi di desa-desa, melihat koperasi-koperasi, termasuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), ketemu langsung masyarakat setiap saat, pantau dan kontrol. Sedangkan untuk urusan administrasi perkantoran diserahkan kepada Wakil Bupati/Wakil Wali kota. (Sumber Informasi : Tim Bappelitbangda Provinsi NTT dan sumber lainnya, editor : Edy Latu).

 

 

Unduh:

1. Deklarasi Komodo 10 Juni 2019

2. Presentasi Masyarakat Ekonomi NTT (ME-NTT)

Read 224 times
Last modified on Thursday, 13 June 2019 06:43