Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel
Header

Penutupan Program SPARC Di NTT

Rate this item
(0 votes)
Published in: Artikel

BAPPELITBANGDA NTT - Program adaptasi perubahan iklim, yang merupakan bagian dari kegiatan proyek Strategic Planning and Action to Strengthen Climate Resilience of Rural Communities (SPARC). Proyek ini dibawah arahan Direktur Jendral Pengendalian perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan dukungan pendanaan dari Global Environment Facility (GEF).

Kegiatan SPARC meliputi empat(4) kabupaten di NTT, masing-masing, kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Sumba Timur dan kabupaten Sabu Raijua. Masing-masing kabupaten yang menjadi sasaran kegiatan proyek perubahan iklim di wilayah NTT mewakili kondisi iklim basah dan kering. Secara umum, dari analisis data yang dilakukan SPARC bekerjasama dengan BMKG NTT, secara historis menunjukan bahwa variabilitas iklim di NTT sangat dipengaruhi oleh fenomena El-Nino-Southern Oscilation(ENSO).

Penyimpangan curah hujan yang dominan akibat ENSO ditemukan di musim transisi dan periode kering yaitu sekitar bulan Mei hingga Oktober. Fenomena ENSO terutama EL Nino memberikan pengaruh besar terhadap penurunan curah hujan, menyebabkan kekeringan di beberapa wilayah. Analisis data curah hujan jangka panjang selama kurang lebih 100 tahun terakir menunjukan tren dasawarsa yang kuat. Tren penurunan curah hujan ditemukan hampir diseluruh NTT selama periode 1941-1970, sementara pada beberapa dekade terakir (1971-2000 dan 1981-2010), menunjukan tren peningkatan, terutama sebagian besar pulau Timor dan beberapa bagian pulau Sumba. Pulau Flores dibeberapa bagian wilayahnya mengalami tren penurunan curah hujan selama periode 1971-2000. Tren peningkatan suhu lokal di NTT sebagaimana ditunjukan oleh analisis suhu dari delapan(8) stasiun mengidikasikan adanya konsistensi dengan fakta peningkatan suhu Global.

Tujuan Kegiatan yang dilakukan Program SPARC, di empat kabupaten yang meliputi 41 desa adalah: Memperkuat ketahanan masyarakat di Desa, supaya bisa beradaptasi dan tangguh dalam memnghadapi perubahan iklim. Fokus utama program SPARC adalah, a). Mempermudah untuk mengakses air, b). Meningkatkan ketahanan pangan masyarakat dan c). Meningkatkan/memperbanyak alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat.

Survei rumah tangga untuk menilai dampak program Strategic Planning and Action to Strengthen Climate Resilience of Rural Communities (SPARC) dilakukan di 41 desa target SPARC di Nusa Tenggara Timur pada tanggal 25 Februari 2019 sampai 14 Maret 2019. Penentuan jumlah responden menggunakan metode slovin dengan persen error 5%, dan jumlah responden minimum yang diperlukan adalah 385 responden. Total responden yang diwawancara dalam survei ini adalah 467 responden (163 perempuan dan 304 laki-laki) dengan sebaran, Manggarai (11 desa-136 responden), Manggarai Timur (10 desa-119 responden),Sabu Raijua (11 desa- 80 responden)dan Sumba Timur (9 desa-132 responden).

Kabupaten Manggarai :

Intervensi :

  1. Pertanian (jajar legowo, mulsa tanaman, dukungan benih unggul, sekolah lapang, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan))

  2. Livelihood (peternakan babi, ternak kambing, kerajinan tenun, pembuatan kasur, dan lainnya)

  3. Air (bantuan tugu kran, pompa, bak air, dan jaringan perpipaan).

Kabupaten Manggarai Timur :

Intervensi :

  1. Pertanian (pengolahan pasca-panen kopi, sekolah lapang, bantuan alsintan (pulper kopi basah))

  2. Livelihood (pembuatan “cirik” kotoran kambing (bahan baku pupuk organik).

Kabupaten Sabu Raijua :

Intervensi :

  1. Pertanian (irigasi tetes, mulsa tanaman, jajar legowo, pola tanam SRI, dukungan benih unggul, sekolah lapang, dan bantuan alsintan)

  2. Livelihood (budidaya ikan air tawar, rumput laut, perikanan tangkap, pembuatan perahu, dan lainnya)

  3. Air (solar pump, jaringan perpipaan, bak air, pompa).

Kabupaten Sumba Timur :

Intervensi :

  1. Pertanian (irigasi tetes, mulsa tanaman, SRI, jajar legowo, bantuan benih unggul, sekolah lapang, dan bantuan alsintan)

  2. Livelihood (budidaya ikan air tawar, ternak, budidaya tanaman umur panjang, kerajinan tenun, dan lainnya

  3. Air (sumur bor, solar pump, jaringan perpipaan, bak air, pompa ).

Selain itu ada beberapa dampak yang dirasakan oleh hampir semua penerima manfaat program SPARC di Nusa Tenggara Timur, yaitu perubahan praktik pertanian yang lebih tahan iklim, perubahan pola tanam, perubahan komoditas, peningkatan ragam makanan, perubahan strategi dalam mencari nafkah, peningkatan pengetahuan dan akses informasi, dan perubahan fungsi perempuan menjadi lebih produktif (mencari nafkah). Di bidang sumber daya air, perubahan yang dirasakan masyarakat adalah lebih hemat dalam penggunaan air, lebih rajin mandi, dan tercipta kebiasaan yang lebih produktif misalkan budidaya sayuran karena tersedianya air yang cukup.

Program SPARC (Strategic Planning and action to strengthen climate resilience of Rural Communities) yang telah dilaksanakan sejak tahun 2013 di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah berakhir pada tahun 2018. Program kerjasama Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK dan Koordinasi Bappeda NTT dengan dukungan dana GEF/SCCF ini, baru saja melaksanakan acara kegiatan penutupan, yang dilaksanakan, tanggal 22 Maret 2019 di Hotel On The Rock Kupang.

Pada acara penutupan Program SPARC tersebut, hadir antara lain mantan Kepala Bappeda Provinsi NTT, Ir. Wayan Darmawa, MT., PLT Kepala Bappelitbangda Provinsi NTT, Kabid Pemsosbud,Perangkat Daerah tingkat Provinsi, kabupaten, perwakilan Bank NTT, serta Tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI serta dari tim pelaksana program SPARC.

Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian LHK, Sri Tantri Arundhati, mengatakan, program SPARC diimplementasikan di NTT karena memang NTT termasuk daerah rentan. Dan karena keterbatasan anggaran, pilot project SPARC hanya diprioritaskan di empat kabupaten. Meski hanya diimplementasikan di Empat kabupaten, pihaknya berharap project tersebut bisa menjadi stimulus untuk dilanjutkan dengan menggandeng institusi lain seperti perbankan dan lain sebagainya. Sehingga program serupa bisa diimplementasikan di daerah-daerah lain.

Sementara, Manager Program UNDP Indonesia, Christian Usfinit mengatakan karakter dan variabel perubahan iklim yang ada di NTT ini cukup menarik. Oleh karena itu, program SPARC diprioritaskan hanya di Empat kabupaten karena iklim di Empat kabupaten tersebut bisa mewaklili seluruh kondisi variabel iklim di NTT dan Indonesia secara keseluruhan. “Manggarai memiliki kecenderungan iklim basah. Sumba Timur memiliki kecenderungan iklim kering. Sabu Raijua juga diprioritaskan karena selama ini belum ada bentuk adaptasi yang bisa mewakili pulau kecil dan terluar,” katanya.

Senada dengan Tantri, Christian mengatakan kegiatan di Empat kabupaten ini bisa menjadi stimulus ke kabupaten lain di NTT dan juga ke wilayah lain di Indonesia. Pasalnya, aksi-aksi yang dilakukan sifatnya berbasis komunitas dan terintegrasi. “Project SPARC merupakan contoh yang sangat baik karena ada kolaborasi sejumlah aktor. Kita bisa kompak mulai dari pusat, provinsi, kabupaten, desa dan kelompok masyarakat. Juga ada keterlibatan LSM dan media,” tandasnya.

Selanjutnya, Mantan Kepala Bappeda NTT, Wayan Darmawa mengatakan program SPARC adalah satu model pendekatan baru pembangunan yang isunya adalah perubahan iklim. Kendati demikian, eksennya tidak saja konsen pada adaptasi yang langsung berkaitan dengan. Karena lebih bertujuan untuk membangun ketahanan masyarakat untuk mengantisipasi perubahan iklim. “Kalau tidak ada uang, masyarakat pasti babat hutan. Jadi dalam program SPARC ada rehabilitasi irigasi, pembangunan sumur, penyediaan air bersih, pengembangan tanaman musiman, tahunan, sampai pada pengembangan koperasi,” sebutnya.

Diantara banyak program yang pernah dilaksanakan selama ini, menurutnya, SPARC termasuk yang paling bagus koordinasinya. Oleh karena itu, SPARC menjadi model impian untuk membangun daerah karena berbasiskan desa kelurahan. Selain itu, program yang dijalankan juga terbangun secara holistik. “Program SPARC tidak bisa dilakukan secara parisal. Dari sini kita belajar dan membangun. Dari sini kita belajar dan membangun maindset baru agar setiap pembangunan harus terintegrasi,” katanya. (Sumber Info : Program SPARC, KLHK RI- peliput: Edy Latu-Pranata Humas Bappelitbangda NTT).

Read 72 times
Last modified on Wednesday, 27 March 2019 07:43