Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel
Header

Penerapan Pertanian Konservasi Pengelolaan Lahan Kering

Rate this item
(0 votes)
Published in: Artikel

BAPPEDA NTT – Pengolahan lahan kering adalah menciptakan lingkungan perakaran yang dalam, mempertahankan kemampuan tanah menyimpan air dan mengedarkan udara. Tindakan yang harus dilakukan dalam pengelolaan lahan kering adalah memperkaya tanah dengan zat hara untuk ketersediaan akar. Lingkungan perakaran yang dalam mensyaratkan pembuangan kelebihan air melalui rembesan dalam dan melalui aliran permukaan untuk memantapkan zarah-zarah (hara) tanah. Humus sebagai sala satu hasil perombakan zat organik membentuk zarah majemuk dan mantap.

 

Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terdiri dari 22 kabupaten/kota, sala satu Provinsi di Indonesia yang sebagian besarnya wilayahnya merupakan daerah yang potensi pertanian di dominasi lahan kering. Menurut data laporan penggunaan lahan, Dinas Pertanian Provinsi NTT tahun 2017, lahan pertanian bukan sawah (terdiri dari :tegal/kebun,ladang/huma, perkebunan, hutan rakyat,padang rumput/padang pengembalaan, hutan negara, lainnya:tambak,kolam,empang), berjumlah 3.638,029,7 ha. Selanjutnya lahan sawah menurut data tahun 2017, berjumlah 215.796,1 ha. Lahan sawah terdiri dari : Irigasi, tadah hujan, rawa pasang surut dan rawa lebak.

 

Pertanian Konservasi merupakan sistem pertanian yang menerapkan 3 perinsip yakni, pengolahn lahan terbatas, penutupan permukaan tanah , serta rotasi tanaman. Istilah Konservasi telah lama dikenal di dunia pertanian, namun pada praktiknya pertanian konservasi (PK) tidak dapat langsung diterima oleh petani. Karena pada umumnya petani melihat dulu hasil PK dan diyakini dengan contoh, dan setelah itu, petani baru mau menerapkan PK.

 

Food and Agriculture Organisation (FAO) dan Badan Litbang pertanian, Kementerian pertanian telah bekerjasama penerapan sistem pertanian konservasi(PK) sejak tahun 2014. Sistem PK tersebut telah di terapkan di Provinsi NTT pada 21 kabupaten. Selain itu, sistem PK telah diterapkan di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang meliputi 8 kabupaten, dan diperkenalkan juga di beberapa kabupaten antaranya, Gorontalo, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.

 

Berkenaan dengan berakhirnya kerjasama tersebut, FAO menyelenggarakan workshop bertajuk "Promoting Conservation Agriculture for Productivity, Production and Climate Resilience in Indonesia" di Kupang pada 7 Februari 2019. Workshop membahas berbagai hal dan pemaparan pengalaman penerapan PK di masing-masing kabupaten. Acara diawali dengan kunjungan lapangan bertempat di kelompok Tunas Muda, Desa Camplong II, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, tanggal 6 Februari 2019.

 

Food and Agriculture organization of the united Nations (FAO) bekerjasama dengan BPTP NTT, guna mengkaji pengalaman penerapan pertanian konservasi di tingkat petani, mendorong berbagai lembaga pemerintah dan non pemerintah untuk melanjutkan memperluas prinsip-prinsip pertanian konservasi dalam pengelolaan pertanian lahan kering, serta pertukaran pembelajaran tentang pertanian konservasi.

 

Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 100 orang perserta yang terdiri dari utusan dari kementerian Pertanian, kementerian Desa, kementerian pemberdayaan perempuan, Badan Litbang Pertanian, B2P2TP Bogor, B2SDLP Bogor, BB Mektan Serpong, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Pertanian Jakarta, Direktur Pendanaan Multilateral, Diretur Pangan dan Pertanian BAPPENAS Jakarta, Pusat kerjasama kementan Jakarta, Anggota Komisi IV DPR RI, DPRD Kab TTU, DPRD Prov. (NTB, NTT), BPTP ( NTB, NTT, Gorontalo, Sulsel, Sulteng), BAPPEDA Prov. (NTB, NTT, Gorontalo, Sulsel, Sulteng), BAPPEDA Kab. (Bima, Sumba Tengah), Distan Prop. (NTB, NTT, Gorontalo, Sulsel, Sulteng), Distan Kab. (Bima dan Sumba Tengah), Dinas Ketahanan Pangan NTB dan NTT, Peneliti/Penyuhul BPTP NTT, Penyuluh Daerah, Perwakilan Kades, petani, Universitas, FAO (Jakarta, Pakistan dan Swaziland), dan Kementan Timor Leste.

Bupati Kab. Kupang, Korinus Masneno saat Temu Lapang mengatakan, teknik PK terbukti berhasil diterapkan di NTT. Masneno menyatakan dukungan terhadap petani untuk menerapkan PK. "Dengan cara konvensional petani hanya menghasilkan 2,7 ton/ha, setelah penerapan PK mencapai 4.5-6 ton/ha," paparnya.

Perwakilan FAO di Indonesia, Stephan Rudgad berharap teknik PK dapat diterapkan secara lebih luas di Indonesia melalui kebijakan pada tingkat nasional, provinsi dan kabupaten.

 

Menurut Harlan Hale, Official Oficer USAID, PK baru terlihat hasilnya setelah penerapan selama 3 tahun. Penerapan PK di dunia, paparnya, mencapai 100 juta hektare meliputi 47% di Amerika Selatan, 39% di Amerika Utara 9% di Australia, dan sisanya di Asia.

 

Koordinator Nasional Projek Pertanian Konservasi/ Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur mengatakan teknik pertanian konservasi sangat bermanfaat terutama untuk diterapkan di lahan kering dan iklim kering. Teknik pertanian ini terbukti dapat meningkatkan hasil, melindungi lahan dan menjaga kesuburan serta mempertahankan kelembaban tanah.

 

Pada prinsipnya Kementerian Pertanian, melalui Badan Litbang Pertanian mendukung sepenuhnya kegiatan ini dan diharapkan dapat terus diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.Dalam kesempatan tersebut, Ujang Suparman, Manager Program FAO pertanian Konservasi untuk provinsi NTT-NTB, hasil penilaiannya PK amat berhasil penerapannya di Provinsi NTT. (sumber informasi: Bidang Ekonomi Bappeda NTT/Ursula Gaa Lio; Sumber lainnya Humas Kab. Kupang/Edy Latu-Bappeda NTT).

Read 313 times
Last modified on Wednesday, 13 February 2019 06:41