Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel
Header

TANAM KELOR, LONCATI PAGAR MISTIK

Rate this item
(0 votes)
Published in: Artikel

BAPPEDA NTT - Sesaat setelah debat terbuka Calon Gubernur NTT 5 April 2018, masyarakat dan media media massa memberikan apresiasi untuk hal yang sudah lama tidak terdengar yaitu kelor. Saya ingat pos-kupang.com merilis berat Debat Terbuka Calon Gubernur NTT, dari Pembangunan Jalan Hingga Daun Kelor. Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat menyebut ‘kelor’ sebagai penunjang gizi dan sumber mata pencaharian petani.

Esensinya adalah bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesehatan dari hal yang lumrah yakni kelor. Ini menunjukkan bahwa kesadaran dan cara pikir tentang alam raya beserta segala isinya dapat mengubah kehidupan manusia. Tata pembangunan ekonomi mesti dimulai dari hal-hal yang kita miliki dan infrastruktur terus didorong untuk mendukung hal-hal itu. Kembali ke dunia kelor, kita mungkin ingat sebuah peribahasa klasik ‘Dunia tak selebar daun kelor’.

 

Kelor Mistik dan Kelor Ontologis

 

Kelor (Moringa oleifera atau Moringa pterygosperma) tidak asing bagi masyarakat NTT dan pribahasa klasik di atas bukan deretan kalimat baru. Saya tidak berkenan membahas tema dunia tak selebar daun kelor karena pepatah itu memiliki makna yang dapat muncul secara berbeda dari sudut interpretasi yang beragam. Beberapa penafsir mungkin menghubungkannya dengan perdebatan tentang apakah bentuk bumi ini datar atau bundar, dan pihak lain menariknya untuk mengartikulasi konsep tentang ukuran dunia (luas vs sempit). Saya lebih cenderung menarik satu makna lain yaitu dunia kelor tak selebar rentangan ingatan manusia. Limitasi ingatan manusia mungkin sangat terbatasnya pengalaman yang mampu kita hadirkan sebagai titik tolak aktivitas saat ini dan sedikit sulit setiap pengalaman itu membentuk keutuhan tindakan manusia. Karena dunia ingatan dan dunia yang dapat ditanami kelor itu berbeda, imajinasi dan realitas itu dapat saling menghadirkan tetapi juga mungkin seketika saling meniadakan. Karena dunia dan kelor dapat menyatu dalam satu pikiran personal manusia, dan manusia itu pada saat yang sama menghidupi dunia metafisik tetapi tidak meniadakan kekuatan akal budinya.

 

Menarik untuk membahas dunia dan kelor yang konon dikonotasikan sebagai tumbuhan pengkal unsur-unsur gaib (dunia metafisik) meskipun kini telah seakan menjadi pohon ajaib bagi kesehatan manusia. Tidak bermaksud menanggalkan diri dari ingatan tentang pepatah di atas, saya juga hendak menyelidiki jalan untuk tidak meniadakan makna metafisis dari kelor dengan tidak menutup ruang perdebatan berbasis rasio tentang kekuatan faktual dari kelor itu bagi manusia. Saya memandang adanya ruang dialektika menarik terbentang di antara realitas aktual yang sedang menampilkan seadanya masyarakat berkeyakinan mistis atas kelor itu hal lumrah dengan realitas lain dimana orang tidak kemudian menafikan seketika optimisme ontologis atas kelor. Sehingga menurut saya, duduk persoalan disini yakni mengapa kelor mendapat ruang mystically tanpa menanggalkan argument rasional yang menjadi basis diskusi tentang manfaat gizi dan ekonomis dari kelor,. Saya menarik keluar dua hal yang memilik hubungan erat, pertama mystically kelor. Dari masyarakat antah-berantah kita mengenal daun kelor memiliki fungsi mistik. Terdengar sangat metafik tetapi telah tersimpan dalam ingatan manusia bahwa kelor mampu mengusir makluk gaib, kelor dapat mengusir roh halu, kelor ampuh menangkal suanggi dalam mitor urban dunia Timur. Alahasil, seketika secara kebetulan manusia terbaca dalam kacamata mistik itu, dia diletakkan tidak jauh pisah dari persekutuannya dengan setan, kelor dijadikan alat bantunya. Kelor begitu perkasa dihadapan kedengkian setan, suanggi, roh halus, dan ini sungguh irasional. Namun masih berjejak dalam ingatan setiap manusia Timur bahwa bukan hanya untuk memandikan mayat, tujuannya untuk mengusir ajian, susuk, atau makhluk prewangan yang masih menempel pada tubuh si mayat, tetapi kelor menjelma menjadi tanaman ajaib. Apakah anda yakini mitos itu?

 

Kedua, optimisme ontologis tentang manfaat gizi dan ekonomis dari kelor. Diakui bahwa dalam segelintir kelopok masyarakat kita, kelor menjadi sayuran biasa. Kelor kini bukan sayuran disaat paceklik atau ketika kita tidak memiliki pilihan lain. Ada nuansa baru memahami manfaat kelor sebagai satu-kesatuan hayati dalam universum kosmos yang menempati fungsi pangan berbasis masyarakat. Kini kita tercengang oleh gugatan Era Baru Pemerintahan Provinsi NTT tetapi sejatinya kelor bukan hal yang baru.

 

Terhadap hal yang kedua, kita tengok dan merefleksikan kembali banyak temuan dan pendapat positif tentang kelor. Riset Pertanian sampai kepada asumsi bahwa telah berlangsung selama 40 tahun, kelor menjadi makanan sayuran kaya nutrizi tetapi murah. Bayangkan perbandingan gram, daun kelor mengandung 7 x vitamin C pada jeruk,  4 x calcium pada susu,  4 x vitamin A pada wortel,  2 x protein pada susu, dan 3 x potasium pada pisang. Ini mendorong World Health Organization (WHO) menganjurkan bayi dan anak-anak pada masa pertumbuhan dianjurkan mengkonsumsi daun kelor.

 

Riset istimewa lain oleh Prazuk dkk, yang berasal dari Groupe d’Etudes Epidemiologiques et Prophylactiques, Villeneuve St Georges di Perancis. Publikasinya di jurnal AIDS volume 7 pada 1993 itu menyebutkan peran daun tanaman kelor sebagai sumber nutrisi yang kaya protein dan mineral. Dan seorang ahlir biokima nutrisi, Jed W Fahey, John Hopkin School of Medicine di Amerika Serikat pada tahun 2005 telah merangkum berbagai riset tentang khasiat kelor. Dalam Trees for Life Journal: A Review of the Medical Evidence for Its Nutritional, Theurapeutic, and Prophylactic Properties, Part 1, Jed W Fahey menyebutkan terdapat 169 riset yang melibatkan seluruh bagian tanaman kelor untuk kesehatan. Keajaiban lain dari kelor ditampilkan dalam penelitian Kasolo JN, yang menemukan bahwa kelor memicu sistem kekebalan tubuh pada anak-anak pengidap HIV di Burkina, Faso, Afrika Barat. Menurut Kasolo, kelor mengandung zat fitokimia yang membuat tanaman mampu melakukan mekanisme pertahanan diri. Fitokimia yang dikandung diantaranya tannin katekol, tannin galia, stroid, triterpoid, flavonoid, saponin, antrakuinon, alkaloid, dan gula pereduksi. Dan senyawa fitokimia ini telah diteliti dan mempunyai kemampuan sebagai obat yang bermanfaat sebagai detoksifikasi dan pemurnian air, antibiotic, perawatan kulit, anti inflamasi, bisul, tekan darah, diabetes, dan anemia. Sungguh ajaib, memang.

 

Keajaiban kelor tidak hanya untuk kebutuhan manusia karena itu para ahli menarik kita untuk mengenal lebih jauh manfaat kelor hewan. Orfar Syofian, seorang peneliti dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya memaparkan dalam penelitaannya: Effect of Moringa oleifera Leaf Meal in Feed on Broiler Production Performance (2008), menunjukkan bahwa kelor sungguh ajaib bagi hewan (baca peternakan.litbang.pertanian.go.id). Menurut peneliti ini efek penggunaan tepung daun kelor (moringa oleifera) dalam pakan terhadap penampilan produksi ayam pedaging. Materi yang digunakan adalah tepung daun kelor (moringa oleifera) dan 200 ekor yam pedaging strain Lohmann. Metode penelitian adalah percobaan lapang dengan Rancangan Acak Lengkap yaitu penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dalam pakan sebanyak 0% (P0); 2,5% (P1); 5,0% (P2); 7,5% (P3) dan 10% (P4) dengan 4 ulangan. Variabel yang diamati adalah konsumsi pakan, pertambahan bobot hidup (PBH), konversi pakan, berat karkas, efisiensi produksi dan Income Over Feed Cost (IOFC). Apabila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun kelor (moringa oleifera) dalam pakan tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P > 0,05) terhadap konsumsi pakan, PBH, konversi pakan, berat karkas, efisiensi produksi dan IO FC. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dalam pakan tidak memberikan peningkatan terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot hidup, konversi pakan, berat karkas, faktor efisiensi produksi dan Income Over Feed Cost (IOFC). Penggunaan hingga 10% tepung daun kelor (Moringa oleifera) dalam pakan tidak memberikan efek negatif dalam penampilan produksi ayam pedaging.

 

Dari displaying data ini, terlintas betapa istimewanya tanaman kelor yang konon tidak dipandang penting. Kelor kita kenal sebagai tanaman berjenis jenis kayu lunak, berkualitas rendah. Kelor menghasilkan daun dengan karakteristik bersirip tak sempurna dan kecil. Kulit dari akar kelor pedas dan berbau tajam. Dan terhadap pohon yang terlihat enteng itu, kini kesadaran kita tergugat. Setidaknya gugatan Gubernur NTT atas kesadaran kita tentang kelor, diharapkan memiliki impulse buying yang berbentuk komitmen strategis yang lahir dari open minded. Artinya jika kita telah jauh waktu mengenal kelor, mengapa kita tidak mengembangkannya secara massif meskipun kita mungkin tidak luput dari gugatan ingatan mistik tentang kelor.

 

Meloncat dari Jebakan Mistik

 

            Kita mungkin sepakat dengan manfaat humanistik dari pohon kelor ditengah gentayangannya keyakinan mistik. Di sini saya berefleksi mengenai manusia mutidimensional yang pada satu sisi sangat terbuka tetapi pada sisi yang lain begitu tertutup. Sebab manusia begitu bebas menentukan kapan dia bertindak dan pada waktu mana dia tidak melakukan hal apa pun kecuali berpikir dan berimajinasi.

 

            Hakekatnya manusia mungkin salah satu mahluk sangat unik sejagad. Manusia memiliki fisik sangat rapuh, lemah, setiap saat dapat hancur, tetapi oleh kuatnya daya kerja akal budi dia berubah sewaktu-waktu menjadi makluk yang sangat superior dan perkasa. Kompleksitas kehidupan manusia juga bukan hal yang dapat dia hindari, tetapi oleh kemampuan berpikirnya manusia itu bisa mengingat dengan sempurnah hal-hal yang lampau, serta dapat membayangkan hal-hal yang belum ada. Jadi dengan agak nakal kita mengatakan manusia dapat mengubah wajah dunia. Hal itu tidak mustahil, dapat terjadi karena otak manusia tergolong lebih besar di antara maklum kelas mamalia di bumi. Otaknya memampukan manusia berpikir sangat analitis dan diskursif, sehingga dia dapat memutuskan hal-hal yang masuk akal. Maka ada dua hal yang menjadi produk pikran manusia yang membentuk peradabannya. Pertama, ingatan. Manusia menggunakan ingatan agar ia bisa belajar dari masa lalunya dan untuk itu dia berkembang dan dapat menghindari kesalahan yang dahulu mungkin terjadi. Kedua, imaginasi. Manusia menggunakan imajinasinya untuk membayangkan apa yang belum ada dan ia bisa memproduksi hal-hal untuk masa depannya.

 

            Dari analisa di atas, kita menyimpulkan bahwa ingatan dan imajinasi merupakan anugerah yang instimewah. Namun ingatan dapat menyebabkan manusia sungguh menyesali masa lalunya dan dia menjadi trauma karena dihantui oleh rasa sesal yang tak terelakkan. Penilaian yang sama juga imajinasi. Imajinasi membuat manusia mampu membayangkan hal-hal yang sangat buruk dan mengakibatkan dia menjadi sangat cemas, depresi dan bahkan tidak mau hidup lagi.

 

            Ini hal-hal yang sekiranya kita temukan ketika mereorientasi arah kesadaran kita tentang kelor. Mungkin hal yang sederhana dapat kita lakukan adalah kita sadari bahwa ingatan tentang mistisisme kelor tetap hanya bagian dari ingatan, jejak masa lampau dan bukannya kenyataan saat ini. Dan kecemasan yang lahir dari imajinasi bukan pula kenyataan tetapi dapat dijadikan bekal demi hal-hal baik yang dapat tercipta. Hendak saya katakan bahwa mengembangkan perilaku yang tepat baik secara individu maupun kelompok akan mustahil jika kita tidak menyentuh tepat pada titik kesadaran manusiawi. Jadi kesadaran sesungguhnya hal yang menentukan hasil yang terlahir dari ingatan dan imajinasi. Konteksnya adalah jika kelor terlanjur dibentengi pagar mistik, janganlah kita berimajinasi tentang kesehatan atau kekuatan ekonomi dan berimajinasi untuk jaya oleh hasil kelor. Jadi hancurkan pagar mistik dan gerakkan tanam kelor. Mari dan bergegas tanam kelor selebar-seluas lahan anda dan biarkan dunia mistik menyepit dan imajinasi menyusut hinggal selebar daun kelor. (Paul Kolo - Kasubag PDE pada Bappeda Provinsi NTT).

 

Read 129 times
Last modified on Friday, 26 October 2018 07:44