Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel
Header

Membangun Desa Melalui Program DMAM

Rate this item
(0 votes)
Published in: Artikel

BAPPEDA NTT - Cita-cita untuk membangun dan memajukan desa adalah sebuah cita-cita yang luhur. Tetapi tidak semua orang berani untuk mengambil tanggung jawab memajukan desa, terlebih kalangan anak muda. Pemuda-pemuda berpendidikan tinggi dan berprestasi kebanyakan memilih mengadukan hidup di dunia industri dan perkantoran di kota besar. Sangat sedikit dari mereka yang memilih kembali ke desa dan bekerja bersama warga desa untuk membangun desa.

 

Ketika saya membaca beberapa hasil penelitian dan berbagai tulisan program kegiatan yang dilaksanakan oleh teman-teman Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM, yang bermitra dengan Pemerintah provinsi NTT , yang mana kegiatan mereka berhubungan dengan petani di desa, saya menemukan beberapa pandangan melalui tulisan artikel dan laporan mereka antara lain bahwa akar masalah kemiskinan dan pengangguran di desa bukanlah karena kurangnya modal, bukan karena tidak ada inovasi dan teknologi, tetapi karena kurangnya orang-orang terbaik, orang-orang terdidik yang berkompetensi dan berpengalaman yang mau mengelola desa yang notabene 80% didominasi pertanian dan peternakan (potensi agro) secara profesional.

Program Desa Mandiri Anggur Merah/Program DMAM, merupakan program keuangan mikro yang diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur sejak tahun 2011. Sasaran dan target dari program ini adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat desa terutama penduduk miskin, dengan komponen terdiri dari keuangan mikro, peningakatan kapasitas, pendampingan serta berupaya memberikan dampak yang signifikan pada pembukaan lapangan kerja baru,peningkatan produksi pertanian serta peningkatan nilai perdagangan dan jasa.

Sebagai bentuk dalam mengembangkan perekonomian berbasis ekonomi kerakyatan melalui Koperasi, Pemerintah Provinsi NTT sejak diluncurkan Program desa/kelurahan Mandiri Anggur merah tahun 2011, sala satu pencapaian yang membanggakan adalah dengan pembangunan sektor koperasi pada sejumlah desa penerima program DEMAM di 22 kabupaten/kota se- Provinsi NTT. Data yang kami ambil dari Sekretariat DEMAM Bappeda NTT, Koperasi di Desa Mandiri Anggur Merah per Mei 2017 berjumlah 1.962 unit dengan status yang sudah berbadan hukum 129 unit, dan 10 diantaranya koperasi yang pergerakannya terus meningkat dari modal 250 juta memasuki ratusan juta dan milyaran rupiah, (10 koperasi Anggur Merah terbaik dapat dilihat pada muatan artikel website, bappeda.nttprov.go.id, tahun 2017). Sementara itu, 458 unit koperasi telah memiliki akte pendirian koperasi yang dibiayai dari APBD I NTT, dan sisanya akan terus di proses untuk status legal akte pendiriannya di desa melalui Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTT. Selain itu, jumlah kelompok masyarakat yang terdapat di 22 kabupaten/kota dan yang menerima manfaat dana program DMAM melalui koperasi desa maupun koperasi yang telah ada selain Koperasi Anggur merah terhitung tahun 2011-2016 sebanyak 19.916 kelompok.

Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh para pendamping kelompok masyarakat/PKM, program DMAM di 22 kabupaten/kota se- provinsi NTT dalam pengembangan koperasi di desa Anggur Merah, sala satunya di kabupaten Manggarai yaitu Desa Golo Watu, Kecamatan Wae Rii, telah di bangun Koperasi Simpan Pinjam (KSP Wira Mandiri), Badan Hukum : 03/BH/XXIX/8-2014. Yustinus Sarimin Sa, SE, yang merupakan PKM program DMAM di desa Golo Watu, dengan berbekal pengetahuan serta pengalamannya mendampingi sejumlah desa, di 3 (tiga) kecamatan berbeda di kabupaten manggarai, serta didukung oleh para tokoh masyarakat antaranya Bapak Kasmir Padur, SE, telah berbuat membangun desa, melalui KSP Wira Mandiri Desa Golo Watu. Upaya tersebut merupakan kegiatan mendorong masyarakat setempat dalam pemanfaatan potensi lokal dengan Visi, Gerakan Kemandirian Dalam Kebersamaan, serta Misi, Mempersatukan Petani Dalam Usaha Ekonomi Sejenis, Pengembangan Ekonomi Produktif, Mensejahterakan Anggota Mendukung Produktifitas Pertanian, Peternakan dan Jasa, Terciptanya Gaya Hidup Menabung Dengan Usia Dini, Untuk menjadikan Desa Golo Watu sebagai Desa Koperasi.

Desa Golo Watu, yang jaraknya 7,5 Km dari ibu kota kabupaten Manggarai/Ruteng, terletak di jalan Liang Bua arah menuju lokasi wisata budaya kabupaten Manggarai. Jarak tempuh menuju desa golo Watu sangat mudah, bisa dengan menggunakan kendaraan umum maupun pribadi, didukung dengan kondisi jalan beraspal yang mulus. Selain itu, dengan panorama alam serta udara yang sangat sejuk, pada sisi kiri kanan jalan diantara lereng perbukitan rendah yang indah dapat kita jumpai lokasi persawahan masyarakat maupun berbagai jenis tanaman perdagangan seperti, kopi , cengkeh , dan lain sebagainya, membuat setiap orang baru yang melalui wilayah tersebut mempunyai keyakinan bahwa secara ekonomi masyarakat lokal setempat cukup makmur. Saat saya mengunjungi desa Golo Watu medio pebruari 2018 yang lalu, dari perbincangan kami bersama Bapak Kasmir Padur, mantan Kades dan saudara Yustinus Sarimin Sa/PKM desa Golo Watu, sekian banyak gambaran tentang kondisi sosial budaya maupun jenis usaha pengembangan perekonomian masyarakat setempat serta perekembangan KSP Wra Mandiri, yang telah berjalan dengan baik sampai saat ini.

Gambaran tentang keberadaan KSP Wira Mandiri, dengan slogan “ Berani Untuk Sejahtera”, diawal berdirinya muncul sejumlah tantangan yang terjadi di lapangan. Karena berbicara tentang koperasi yang diketahui disejumlah tempat hanya memiliki nama, namun tidak bernafas atau mati. Tentu hal ini berbagai alasan dan opini masyarakat bahwa, saat pemerintah memberikan bantuan modal selalu ada semangat awal berdiri dalam rangka memudahkan meminjam uang, tetapi enggan mengembalikan. Faktor lain tentang koperasi antaranya, manajemen pengelolaan yang kurang profesional akibat dari rendahnya sumber daya manusia juga turut mempercepat matinya koperasi Anggur Merah di desa. KSP Wira Mandiri yang berdiri sejak tahun 2014, dalam perjalanannya walaupun ada tantangan, dengan bermodalkan ketulusan dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat terutama pada bidang, pertanian, peternakan dan jasa, maka terus dikomunikasikan dengan warga masyarakat melalui kelompok-kelompok yang telah dibentuk baik secara komunitas maupun secara perorangan.

Lebih jauh keberadaan KSP Wira Mandiri dalam pengembangan aktifitas ekonomi masyarakat desa Golo Watu dengan jumlah anggota sebanyak 324 orang, dari modal awal sebanyak 250 juta rupiah terus berinovasi dalam mengembangkan modal serta meningkatkan dukungan kepada anggota dari waktu kewaktu hingga mencapai 550 juta rupiah di tahun 2017. Dengan dukungan para pengurus maupun pengawas dari KSP Wira Mandiri, pengelolaan manjemen dari aktifitas ekonomi tersebut dalam kurun waktu berjalan telah melaksanakan rapat anggota tahunan(RAT), memasuki tahun ke-3, sejak 2014-2018. Penilain hasil pengeloalaan manajemen yang di pertanggung jawabkan melalui RAT, telah menunjukan kearah perbaikan untuk meningkatkan martabat dan harkat masyarakat setempat baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga mendapat kepercayaan dan dukungan yang baik secara positip, baik dari pemerintah desa, kecamatan,kabupaten, terutama melalui Dinas Koperasi kabupaten Manggarai selaku pembina koperasi-koperasi yang ada di daerah tersebut.

Pengembangan koperasi menjadi sangat relevan serta perlunya komitmen dan dukungan kongkret dari berbagai pihak yang memiliki kompetensi, seperti dari pihak pemeritah lokal utamanya serta dari perguruan tinggi dalam turut serta secara nyata mendukung pengembangan koperasi. Pengembangan aktifitas ekonomi dapat dilakukan dengan berbagai alternatif kelembagaan. Namun pengembanganm aktifitas ekonomi yang berbasis kerakyatan memerlukan pendekatan yang memungkinkan keterlibatan masyarakat secara luas dalam menjamin terjadinya pemerataan. Dalam hal ini, sala satu alternatif yang dapat ditempuh adalah melalui wadah koperasi serta melibatkannya dalam sistem kerjasama dengan berbagai pelaku dalam dunia usaha.

Koperasi berbeda dengan kelompok komunitas pada umumnya. Koperasi adalah organisasi yang lebih dekat dengan grass root, disamping juga sesuai dengan ekonomi pasar. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa kehadiran keberadaan kelompok grass root, menghadapi masalah yang tidak efisien dan tidak efektif bila melakukan aktifitas ekonomi secara individu. Lebih lanjut dari sudut pandang Sosiologis terdapat pula dasar-dasar yang kuat terhadap diperlakukannya kehadiran bentuk collective aktion. Ikatan kebersamaan, dimaksud tentu bisa saja dalam bentuk ancaman ekonomis yang sangat mungkin terjadi pada era persaingan yang begitu tajam akan mengancam sistem perekonomian masyarakat. Penggabungan usaha yang sama berskala kecil, menjadi usaha bersama yang berskala lebih besar dan sangat mungkin untuk menghasilkan efisiensi yang lebih besar karena adanya penggunaan secara bersama terhadap faktor produksi, manajemen, dan berbagai aspek ekonomi.

Sementara kebersamaan sangat memungkinkan untuk memperbesar cakupan usaha sehingga akses usaha yang dapat dimanfaatkan oleh masing-masing akan semakin besar. Kebersamaan pada tingkat operasional sangat penting untuk memperkecil risiko secara kolektf serta mengatasi asimetri (ketidak seimbangan), informasi. (Sumber tulisan : Strategi Refitalisasi peran koperasi Sebagai Jantung perekonomian NTT - Undiknas - Bappeda NTT/Edy Latu).

Read 74 times
Last modified on Friday, 13 April 2018 00:30