Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel
Header

Workshop Penyusunan Master Plan Pengembangan Kawasan Pertanian Wilayah Timur Tahun 2018

Rate this item
(1 Vote)
Published in: Artikel

BAPPEDA NTT - Prof. Dr. Bagong Suyanto hadir menjadi narasumber Kegiatan Sosialisasi Peta dan Workshop Penyusunan Master Plan/Action Plan Pengembangan Kawasan Pertanian Wilayah Timur Tahun 2018. Acara ini dilaksanakan di Hotel Grand Mega Resort dan Spa Denpasar Rabu (13/2/2018). Dalam pengantarnya Prof. Dr. Bagong Suyanto dengan semangat mengatakan bahwa data dan realitas menunjukkan adanya peningkatan produksi hasil pertanian yang cukup menggembirakan sesuai dengan tekad dan proyeksi pemerintah, namun belum menunjukan perkembangan yang paralel dengan peningkatan kesejahteraan petani.

Menurutnya hal ini disebabkan karena keuntungan dari peningkatan produksi pertanian sebagian besar baru dirasakan oleh pedagang perantara dan pemodal besar yang melakukan investasi ke sector pertanian. 

Ditegaskan juga oleh Bagong Suyanto bahwa Pemerintah sementara berencana memperkuat kelembagaan kelompok petani menjadi korporasi petani. Hal ini dilakukan guna melindungi petani sebagai produsen utama bahan pangan dan meningkatkan keuntungan petani. Ditambahkan juga bahwa dengan besarnya jumlah petani saat ini sangat diperlukan kelembagaan petani yang profesional. Konsep ini dengan  mengumpulkan petani ke dalam sebuah kelompok besar dan membentuknya menjadi korporasi dengan kelembagaan yang kuat akan membuat industri pertanian lebih baik dan terorganisasi. Pasalnya para petani padi yang tergabung di dalam korporasi itu nantinya tidak hanya berkutat dengan proses produksi, tetapi juga akan memegang proses pengolahan, pengepakan, bahkan pemasaran. "Dengan proses seperti ini, pendapatan petani akan meningkat, kesejahteraan mereka juga terangkat karena semua dikerjakan dari hulu sampai hilir” imbuhnya.

 

Terkait dengan peningkatan kesejahteraan petani, Prof, Dr. Bagong Suyanto menjelaskan pentingnya petani diberi pemahaman tentang “Social-enterpreneurship” atau Korporasi petani. Hal ini sangat penting sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan petani, yang diharapkan dapat : 1). Memperbaiki pembagian margin keuntungan, 2). Meningkatkan efisiensi dalam proses produksi (mengurangi pengeluaran, menambah keuntungan),   3). Mengembangkan diversifikasi produk dan usaha, 4). Memberi nilai tambah produk pertanian (komodifikasi produk pertanian). Bagong Suyanto juga mengutip salah satu pendapat ahli  ekonomi dari mazhab Frankfurt yakni “Theodore W. Adorno” yang mengangkat konsep Ersatz atau nilai pakai kedua sebuah produk, dimana konsumen bersedia dan rela mengeluarkan biaya tambahan atau nilai yang mahal untuk sebuah produk yang sesuai perkembangan gaya hidup, status sosial, budaya trend dan permintaan pasar.

 

Sosialisasi dibuka secara langsung oleh Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali.  Dalam sambutan arahannya, disampaikan amanat Permentan Nomor 56 tahun 2016, bahwa arah Kebijakan, tujuan program dan sasaran kegiatan kawasan pertanian  harus memperhatikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), kelestarian sumberdaya alam, sosial budaya masyarakat dan selaras dengan rencana pembangunan daerah.   Selanjutnya ditegaskan pula bahwa Perangkat Daerah (PD) yang menyelenggarakan urusan pertanian di provinsi, wajib menyusun masterplan sebagai acuan teknis dalam menyusun arah pengembangan kawasan pertanian di tingkat provinsi.  PD di tingkat kabupaten/kota, wajib menyusun action plan kawasan pertanian sebagai acuan teknis dalam menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan pengembangan kawasan pertanian di tingkat kabupaten/kota.

 

Pada kesempatan  yang sama, Kepala Biro Perencanaan Kementerian Pertanian RI yang diwakili Kepala Bagian Perencanaan menegaskan strategisnya penyusunan masterplan bagi Pemerintah Pusat, yakni sebagai 1). Basis data spasial dalam penyusunan kegiatan, 2). Sumber data informasi dalam menentukan kebijakan pengembangan kawasan, 3). Sebagai dokumen pengembangan kawasan dalam menyusun kegiatan dan anggaran di daerah kawasan secara multiyear, sementara manfaat bagi Pemerintah Daerah ujarnya dapat sebagai 1). Sebagai dasar perencanaan daerah dalam mengusulkan kegiatan dalam e-proposal, 2). Sebagai rujukan daerah dalam menyusun dokumen perencanaan daerah seperti Rencana Strategis Daerah, 3). Mendukung data dan informasi terkait RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota.

Pada tahun 2017, telah ditetapkan pilot project tentang Lokasi Pengembangan Kawasan

  • Jagung di Kabupaten Lebak, Banten
  • Bawang merah di Kabupaten Malang, Jawa Timur
  • Kakao di Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara,
  • Sapi potong di Kabupaten Subang, Jawa Barat

Diinformasikan juga bahwa Kementerian Pertanian RI, telah menyelesaikan penyusunan  Peta pengembangan kawasan peternakan sapi potong di Provinsi NTT, yakni di Kabupaten Kupang, TTS, TTU dan Belu.  Yang tak kalah pentingnya, menurut Kepala Biro Perencanaan dalam menyusun strategi operasional pengembangan kawasan adalah  penguatan kelembagaan, percepatan adopsi teknologi, penguatan sarana dan prasarana, penguatan Sumber Daya Manusia (SDM), penguatan kerjasama dan kemitraan, penguatan perencanaan, dan penguatan industri hilir, tutupnya. (Agustinus Fahik, SIP, MA / Sekretaris Bappeda Provinsi NTT).

Read 194 times
Last modified on Monday, 19 February 2018 09:07