Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel
Header

Wirausaha Tenun Ikat Kaum Perempuan

Rate this item
(1 Vote)
Written by  | Published in: Artikel

BAPPEDA NTT -Tenun ikat Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain dibuat sebagai kain adat masyarakat setempat atau untuk busana pesta, kini kain tenun ikat ini ramai digunakan sebagai bahan  baku aneka kerajinan tangan seperti gelang, tas, hingga topi, usaha tenun ikat tersebut kebanyakan merupakan home industri melalui kaum perempuan. 

 

Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu daerah kepulauan di Indonesia yang kaya akan hasil kerajinan tangannya. Yang cukup termasyhur adalah hasil kerajinan tangan tenun ikat yang merupakan warisan turun temurun dari leluhur. Motif dan ragam hias tenun ikat khas NTT sangat bervariasi.

 

Kini fungsinya tidak terbatas sebagai kain selempang untuk upacara adat suku setempat atau dibuat sebagai pakaian, namun kain tenun ikat ini makin ramai dijadikan berbagai kerajinan tangan unik dan fungsional. Sebagai upaya untuk menghidupkan home industri tenun ikat tersebut, pemerintah daerah telah mewajibkan para pegawai negeri sipil daerah , baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, mewajibkan penggunaan motif daerah pada hari kamis pada setiap minggu berjalan, ataupun pada acara dinas tertentu untuk memakainya. Bahkan lantaran sarat nilai seni, produk kerajinan tangan ini bernilai jual tinggi.

 

Salah satu pelaku wirausaha tenun ikat untuk kaum perempuan di desa Nansean kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi NTT, telah mengembagkan produk home industri tenun ikat di desa tersebut melalui upaya pemberdayaan ekonomi bagi kaum perempuan dalam mengembangkan warisan leluhur yang telah lama digeluti di desa setempat. Sebanyak 25 peserta kaum perempuan setempat yang latar belakangnya merupakan penenun ikut dalam kegiatan pelatihan yang difasilitas langsung oleh Kepala Desa Nansean medio Oktober tahun 2017.

 

Latar belakang upaya pelatihan tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan motif asli yang selama ini dianggap sudah pudar, dengan demikian apa yang diharapkan oleh Bapak Kades dalam arahan antara lain untuk dapat mengembangkan motif tenun ikat di desa setempat menjaga kualitas serta perlu ditingkatkan motif yang ada produksinya bisa bersaing dengan produk home industri daerah lain sehingga dapat bersaing dengan yang lainnya. Citra produk tradisional perlu didukung dengan kualitas yang tinggi sehingga tidak seperti biasanya, dan hal tersebut menjadi upaya daya saing produk lokal yang dapat membantu upaya peningkatan ekonomi keluarga serta perlu menjadi daya tarik di pasaran melalui kreatifitas kaum perempuan setempat.

 

Kegiatan pelatihan yang didukung melalui dana hibah (alumni Grant Scheme Round) tahun 2017, dari Pemerintah Australia dan diadministrasikan oleh Australia Awards In Indonesia. Adapun bentuk kegiatannya antar lain, Fokus Group Diskusi (FGD), workshop pelatihan Basic Handcraft, pembentukan koperasi penenun dan pameran kerajinan tenun ikat.

 

Informasi tentang Group dan hasil produksi tenun ikat desa Nansean dapat diakses melalui akun Twitter:@NanseanWeavers dan Istagram : Nansean Weaving, atau melalui Selfina Naibobe, Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . (Sumber info: Selfina Naibobe).

 

Read 341 times
Last modified on Wednesday, 20 December 2017 01:44