Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel
Header

PERTUMBUHAN EKONOMI DAN KEMISKINAN

Rate this item
(0 votes)
Published in: Artikel

BAPPEDA NTT - Selama tahun 2016 perekonomian NTT tumbuh sebesar 5,18%. Pertumbuhan ini lebih tinggi 0,16% dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,02%. Dari aspek sektoral, pertumbuhan ekonomi ini didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 28,89 persen; Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 12,67 persen; dan Perdagangan Besar dan Eceran dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 11,07 persen.

 

Di samping itu, menurut Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi di NTT terutama dipengaruhi oleh sektor konstruksi seiring perkembangan kegiatan proyek-proyek pemerintah seperti bendungan, irigasi, jalan, Pos Lintas Batas Negara, gedung pemerintahan dan sarana publik lainnya (sekolah, pasar dan rumah sakit). Selain itu kegiatan konstruksi juga dilakukan oleh BUMN dan Swasta seperti pengembangan dermaga dan Bandara, serta pembangunan sarana perbelanjaan dan hotel. Pertumbuhan ekonomi tahun 2016 juga didorong oleh sektor Sektor lain yang menjadi pendorong di tahun 2016 adalah sektor Administrasi Pemerintahan seiring dengan realisasi gaji ke-13 dan ke-14 PNS, peningkatan realisasi belanja serta realisasi anggaran dana desa dan alokasi dana desa. Di sisi lain, adanya penundaan DAU dan dampak La-Nina diperkirakan menjadi resiko penghambat utama pencapaian proyeksi pertumbuhan ekonomi NTT di penghujung tahun 2016.

 

Terlepas dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi

 

Jumlah penduduk miskin di Nusa Tenggara Timur pada bulan September 2016 sebesar 1.150,08 ribu orang (22,01 persen) meningkat sekitar 160 orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2016 yang berjumlah 1.149,92 ribu orang (22,19 persen). Berdasarkan daerah tempat tinggal, selama periode Maret 2016 - September 2016, persentase penduduk miskin di daerah perdesaan menurun sebanyak 300 orang (dari 1.037,90 ribu orang menjadi 1.037,60 ribu orang) dan untuk perkotaan mengalami kenaikan sebanyak 460 orang (dari 112,02 ribu orang menjadi 112.48 ribu orang).

 

Lebih jauh daripada itu, hasil analisa BPS menunjukan bahwa pada September 2016, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya sama, seperti beras, rokok dan gula pasir. Sedangkan komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan besar adalah perumahan, pendidikan, Angkutan, kayu bakar, listrik dan bensin. Komoditi beras memberikan kontribusi terbesar baik di perkotaan maupun perdesaan dan disusul komoditi perumahan memiliki kontribusi terbesar kedua. Komoditi rokok kretek filter memberikan kontribusi terbesar ketiga terhadap garis kemiskinan yaitu sebesar 8,56 persen di perkotaan dan 7,41 persen di perdesaan.

 

SPECIAL POINTS OF INTEREST

 

  • Pertumbuhan ekonomi NTT selama 2016 lebih tinggi dari pertumbuhan eknomi nasional. Namun tingkat kemiskinan NTT masih ketiga tertinggi se Indonesia.
  • Pemerataan masih perlu menjadi perhatian utama karena terbukti pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum berpengaruh terhadap menurunnya tingkat kemiskinan.
  • Yang menarik adalah meningkatnya jumlah penduduk miskin di perkotaan dibandingkan perdesaan.
  • Dengan komitmen pemerintah pusat untuk peningkatan Dana Desa hingga 100% dari tahun 2016, maka lebih dari 3 triliun akan dikucurkan ke wilayah perdesaan di NTT di tahun 2017.
  • Masih perlu dilihat pengaruhnya Dana Desa tersebut terhadap tingkat kemiskinan perdesaan tapi tren sejauh ini mengindikasikan bahwa mungkin sudah saatnya kita juga memfokuskan program penanggulangan kemiskinan di daerah perkotaan.
  • Program diversifikasi dan subtitusi karbohidrat selain beras juga perlu menjadi perhatian, selain evaluasi efektifitas kampanye anti-rokok yang selama ini telah dilaksanakan.  (Andrey Y. Damaledo, POLICY UPDATE FEBRUARI 2017).

 

Read 106 times
Last modified on Monday, 18 September 2017 00:39