Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel
Header

DRYLAND FARMING SEBAGAI PILIHAN REVOLUSI PERTANIAN DI NTT

Rate this item
(1 Vote)
Published in: Artikel

CATATAN SINGKAT SHORT COURSE DRYLAND FARMING TAHUN 2017 DI BRISBANE, AUSTRALIA

 

BAPPEDA NTT - Sekilas tentang Short Term Awards (STA) bidang pertanian kali ini bertema : produktivitas, jejaring dan globalisasi untuk pertanian lahan kering, dilaksanakan di Universitas Queensland (UQ) di Kota Brisbane, ibukota dari negara bagian Queensland Australia. STA merupakan salah satu program beasiswa Australia yang dirancang oleh UQ International Development (UQID) sebagai salah satu organisasi yang dimiliki oleh Universitas Queensland yang berperan dalam pengembangan tehnik kepemimpinan, manajemen dan penelitian. Short course ini dilaksanakan selama sebulan dari tanggal 3 Februari – 4 Maret 2017 dengan aktivitas di kampus UQ, terdapat juga agenda kunjungan lapangan di pertanian komersil di Lockyear Valley, Toowoomba, Darby, Kingaroy, Brisbane market, serta pertanian kecil dan komersil di Sunshine Coast.

 

Peserta short course Australia Awards berasal dari 7 provinsi : Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Jawa Timur, Maluku dan Maluku Utara. Studi ini bertujuan untuk meningkatkan penciptaan lingkungan yang mendukung dan manajemen bagi pertanian lahan kering yang berkelanjutan di ketujuh provinsi sasaran tersebut.

 

QUEENSLAND

Luas lahan pertanian di Queensland adalah 144 juta ha atau 85%., Komoditas utama : kapas, sorgum gula, sapi, domba, wool, gandum, susu. Negara bagian Queensland memproduksi 50% sapi untuk Australia, 94% gula tebu, 50% tomat, dan 41% kapas. Tantangan pengelolaan pertanian di Queensland adalah ketersediaan air dimana 80% wilayahnya berada dalam kondisi kekeringan. Gambaran lainnya adalah wilayah ini memiliki  iklim  subtropis dengan  cuaca  hangat atau panas hampir sepanjang tahun.

 

Pada musim panas (Desember - Februari), suhu maksimum sekitar 380C. Curah hujan berkisar antara 50-600 mm, walaupun setiap 5-7 tahun sekali terjadi hujan badai dan banjir. Kondisi tanah dataran dan sebagian besar memiliki kandungan kadar garam (salinitas) yang sangat tinggi, ketersediaan air yang sangat minim, namun produktifitas pertanian tetap tinggi.

 

Banyak hal yg dipelajari tentang pertanian lahan kering yang harus diterapkan di NTT, yang mirip dengan karakteristik di Negara Bagian Queensland. Singkatnya ada beberapa catatan penting yang harus menjadi perhatian yakni :

  1. Agribisnis. Semua petani di Brisbane mengembangkan pertaniannya secara professional sebagai sebuah bisnis terhadap pertanian lahan kering dengan luas berkisar 200-1500 Ha. Pengelolaan pertanian menggunakan mekanisasi dan teknologi untuk mengurangi biaya tenaga kerja dan operasional yang
  2. Pengelolaan air. Para petani membuat regulasi sendiri bersama untuk mengurangi pemborosan air dengan memasang meteran penggunaan air masing masing, kecuali air di embung pribadi. Penggunaan sistim irigasi sprinkler untuk efisiensi dan efektifitas penggunaan air dan hampir setiap petani memiliki embung sbg penyimpan air utk usaha pertaniannya. Sedangkan penggunaan irigasi kanal seperti Indonesia yakni saluran primer, sekunder dan tersier tidak digunakan karena dianggap boros, dengan penguapan yang tinggi dan tingkat kehilangan air yang tinggi. Demi menjaga ketersediaan air yang cukup untuk komsumsi penduduk dan pertanian, maka pemerintah federal mengeluarkan kebijakan untuk pembelian air dari masyarakat yang memiliki kelebihan air di tanah milik masyarakat.
  3. Riset dan pengembangan. Petani sangat mengandalkan riset dan pengembangan dalam meningkatkan produksi pertanian terkait : bibit unggul, pengendalian hama & penyakit serta penciptaan alat alat pertanian yang efisien, modern dan efektif digunakan dalam usaha skala
  4. Mekanisasi. Pengunaan traktor dan mesin pertanian lainnya yang menggunakan global positioning system (GPS) untuk menjaga roda traktor hanya melewati jalur yang sama selama bertahun tahun agar mengurangi kepadatan tanah. Rancangan alat mesin pertanian melalui riset dan pengembangan. Dengan penggunaan mesin mesin pertanian maka penggunaan tenaga kerja bisa diminimalisir, bahkan ada lahan pertanian yang luasnya 400 Ha hanya dikerjakan oleh 1 org petani saja. Beberapa lahan pertanian yang luasnya sekitar 800-1300 Ha juga dikerjakan oleh 3-4 petani.  
  5. Pertanian konservasi. System pertanian yang menggunakan prinsip
    1. Pengolahan tanah terbatas. Tanah tidak diolah sama sekali untuk menghindarkan kerusakan struktur tanah dan kehilangan organisme tanah. Jika sangat diperlukan dilakukan pengolahan tanah secara terbatas misalnya dengan membuat lubang tanam atau rorak tanam permanen. Juga dengan penggemburan tanah secara terbatas dengan membuat alur tanam (ripping).
    2. Tanaman penutup tanah. Penutupan permukaan tanah secara permanen. Permukaan tanah diupayakan selalu tertutup baik dengan tajuk tanaman utama, tajuk tanaman tumpang sari, tanaman penutup tanah dan sisa tanaman sebagai mulsa.
    3. Rotasi tanaman. Pergiliran tanaman. Diupayakan selalu dilakukan pergantian tanaman dengan jenis legume (penghasil nitrogen & pengganti pupuk urea) sebagai upaya memperbaiki kesuburan tanah dan manfaat lainnya.
  6. Pertanian organic. Petani menerapkan sistem produksi pertanian yang menghindari atau sangat membatasi penggunaan pupuk kimia (pabrik), pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan aditif pakan. Hal ini merupakan suatu keharusan dari persyaratan produksi pertanian untuk standar konsumsi di Australia dan standar untuk ekspor ke Amerika, Eropa, India, Indonesia dan Negara lainnya.

  7. Pakan ternak. Beberapa jenis rumput yang dikembangkan untuk pakan ternak sapi dan domba ternyata banyak terdapat di NTT, rumput tersebut dihasilkan melalui riset dan pengembangan yang dapat dipanen 4x dan tahan terhadap injakan hewan dan ditanam secara berbaris rapi.
  8. Pasar masa depan. Pemasaran hasil produksi pertanian dari petani menerapkan konsep pasar masa depan, dimana hasil produksi petani telah dijual 60% untuk 1 tahun ke depan, 40% untuk 2 tahun ke depan, dan 25% untuk 3 tahun ke depan. Para petani dibayar tunai di depan dan dana tersebut digunakan untuk biaya produksi. Dalam perkembangan jika produksi tidak terpenuhi maka petani akan dikenakan denda yang sangat besar berdasarkan hasil perjanian. Sistem ini mirip dengan pelaksanaan ijon di Indonesia, tetapi harga yang digunakan adalah harga yang berlaku di pasar sehingga tidak merugikan petani.
  9. Tidak ada subdisi harga pangan. System pemasaran dari produksi pertanian tidak diintervensi oleh pemerintah dan mengikuti mekanisme harga pasar. Penerapan system ini dipandang sebagai hal yang menguntungkan petani dan masyarakat. Bagi petani sebagai produsen pangan akan mendapatkan harga yang tinggi bila produksi menurun atau permintaan tinggi, dan bila harga turun atau permintaan rendah maka petani selalu berusaha mengurangi biaya produksi dan memanfaatkan riset dan pengembangan untuk menghasilkan produksi pertanian yang memiliki kualitas tinggi. Sedangkan bagi masyarakat akan mendapatkan harga yang sesuai dengan kualitas produksi pangan yang diinginkan.

 

Mencermati system pertanian di Australia, sebaiknya kita melihat ke belakang sebelum diterapkannya pola pertanian yang modern seperti saat ini. Konsep konservasi pertanian mulai dikenal di Australia sekitar tahun 1950 an. Namun bukan agriculture conservation. Para ahli menyempurnakan konsep pertanian konservasi agar dapat diterapkan pada system agribisnis dengan skala besar untuk tujuan ekspor, dengan menambahkan perlu pengolahan tanah dan penggunaan pupuk secara terbatas. Konsep tersebut baru diadopsi petani secara luas sekitar tahun 1990-2000, dimana terjadi peningkatan kuantitas dan kualitas produksi pertanian sehingga mampu mencukupi kebutuhan sekitar 60 juta penduduk padahal jumlah penduduk Australia saat ini hanya sekitar 24 juta penduduk.

Keberhasilan pembangunan bidang pertanian di Australia, juga memiliki tantangan yakni bagaimana membuat pertanian menjadi menarik bagi generasi muda ?. Tantangan tersebut akhirnya melahirkan kebijakan pemerintah federal Negara Australia di bidang pertanian sebagai berikut :

  1. Dukungan anggaran untuk mendampingi industry dan membangun rasa percaya diri di bidang pertanian untuk maju ke depan dan mendorong mindset petani untuk selalu berorientasi profit dari usaha taninya
  2. Bantuan dalam pekerjaan dan pelatihan industry untuk sector pertanian
  3. Roadmap pertanian dan pangan untuk riset dan pengembangan menurut kebutuhan masyarakat untuk keseluruhan komoditas
  4. Melalui Codex Australia, pemerintah mengkoordinasi standar makanan yang bertujuan untuk membantu melindungi kesehatan konsumen dan membantu menjamin perdagangan yang adil.

Sebagai informasi bahwa mencermati perkembangan kemajuan di sector pertanian Australia, jika dibandingkan sepertinya system pertanian di Indonesia ketinggalan sekitar 50-60 tahun dari Australia.

 Demikianlah catatan singkat dari hasil pelaksanaan short course dryland farming selama sebulan di Negara bagian Queensland-Australia dengan dukungan anggaran dari Australia Awards Indonesia Tahun 2017, semoga tulisan ini dapat menjadi inspirasi bagi semua pemangku kepentingan untuk dapat melihat secara bijaksana mengenai pertanian lahan kering sebagai pilihan revolusi pertanian untuk kebijakan pembangunan sector pertanian di Provinsi NTT. (Agustinus MBP Fahik, SIP, MA – Sekretaris Bappeda Provinsi NTT).

Read 881 times
Last modified on Thursday, 06 April 2017 08:45